Saturday, June 4, 2016

TERPAKSA NAIK PESAWAT ISRAEL, EL AL




Peasawat El Al
S
eminggu di Tanah perjanjian (waktu minimum untuk memperoleh visa) habis sudah dan waktunya untuk pulang dari Airport Ben Gurion menuju Cengkareng via Airport Schippol, Amsterdam. Dengan santainya kami lenggang kangkung tiba di Airport Ben Gurion,  satu jam sebelum waktu take off.

Staf kounter KLM, dengan enteng berkata: “You are late, check in closed already,” katanya acuh sambil mengembalikan tiket dan paspor kami bertiga, saya istri dan Peggy. Padahal dari kaca tembus pandang, dengan mata telanjang kami bisa melihat pesawat belum take off.
Rupanya lain lubuk lain ikannya, lain di Israel, lain di Indonesia yang boleh datang satu jam sebelum take off. Di Israel minimum tiga jam, bukan pula dua jam sesuai standar internasional. Tambahan satu jam itu adalah untuk security, mengingat banyaknya musuh Negara ini.

Di Airport security ketat sekali, mengingat perang besar Irak Iran baru usai setahun sebelumnya, yang berimbas juga ke Israel, dimana rudal Scud juga jatuh di Tel Aviv. Bahkan Airport Ben Gurion sendiri pernah dibom oleh teroris.

Saking telitinya, selang beberapa menit security mondar mandir lewat di ruang tunggu, melakukan check dan recheck asbak besar, pot pot bunga dan barang mencurigakan. Koper kami yang terletak agak jauh dari kami duduk, ditanya siapa pemiliknya, dan diminta agar menariknya ke dekat kami duduk.
Karena hari itu pesawat KLM dari Amsterdam – Jakarta sudah di-booking, maka kami minta kounter KLM mentransfer kami ke pesawat lain. Tidak diduga hanya ada pesawat yang segera berangkat yaitu El Al, pesawat nasionalnya Israel seperti Garudanya Indonesia.

Lalu kami lalui area security, baterai tustel dikeluarkan, isi dompet diperiksa, bahkan kaos kaki dibuka.
Dengan basa basi security wanita mengantar kami ke ruang tunggu di lantai dua dengan berkata: “Sorry for the inconvenience”, sambil berlalu tanpa senyum tanpa good bye.
Dengan berdoa kami boarding, semoga teroris tidak meledakkan pesawat ini, yang sebagian besar penumpangnya adalah warga Yahudi. Dalam pembagian makanan dalam penerbangan, kami kaget karena bangku kami dilewati stewardess dan mendahulukan melayani Rabbi, guru orang Israel dengan jenggot yang dipilin pilin dan topi bundar khas Yahudi, duduk di bangku deretan belakang kami.
Tidak lama pesawat landing di Brussel jam 14.45, karena tidak ada pesawat yang langsung Tel Aviv – Amsterdam. Kami dioper lagi ke pesawat kecil, hanya lima orang penumpang, termasuk kami bertiga. Beruntung kami sudah punya visa Negara Benelux (Belgia, Netherland, Luxemburg). Dengan hati dagdigdug pesawat melayang layang dihembus angin, naik, turun, miring kiri miring kanan.

B
aru habis berdoa, belum sempat mencicipi snack dan anggur yang disuguhkan sudah ditarik kembali oleh stewardes, tidak terasa sudah landing dengan selamat di Schippol. Puji Tuhan.
Dengan tergesa gesa kami naik taxi Mercedes ke hotel Holiday Inn, dimana kami menginap seminggu sebelumnya dan koper kami dititip selama kami pergi ke Israel.
Dengan baggage-tag, kami mencari dan tidak menemukan koper hitam yang baru kami beli di Israel,  terbawa pesawat El Al atau KLM tidak tahu. Dengan agak kesal dan nada ketus saya berkata kepada pegawai baggage claim KLM : “I don’t believe you can locate my bag”, mengingat pengalaman yang sama terjadi dua minggu sebelumnya, penerbangan dari Olympia, Washington ke Los Angeles, koper kami juga ketinggalan.
Praise the Lord, pada hari yang sama tanggal 14 April 1992 terbang dari Tel Aviv kami tiba di Cengkareng bersama dengan koper koper yang kami titipkan di Holiday Inn Amsterdam, tapi kurang satu koper, yang tertinggal di Israel.

Dengan rasa tidak percaya, keesokan harinya telpon berdering: “Pak koper Bapak yang tertinggal di Tel Aviv bisa diambil”, kata  petugas baggage claim Cengkareng. Segera meluncur ke Bandara melihat  koper warna hitam sudah menunggu pemiliknya, setelah dibuka isinya utuh.  






Post a Comment