Wednesday, June 13, 2012

MENGABDI KEPADA BANGSA SEBAGAI BANKIR



PENDAHULUAN
“Hormat bendera gerak “…begitu kata komandan upacara ketika upacara pengibaran Sang saka Merah Putih berlangsung setiap hari Senin pagi setelah terlebih dahulu diikuti pembacaan Panca Sila. Upacara ini berlangsung paling tidak selama 6 tahun, ketika saya memimpin Bank BRI didaerah perbatasan dengan Timor Timur, kota Atambua, NTT dan di Kudus, Jawa Tengah.

Lalu saya sampaikan pesan singkat  antara lain :”Bank kita tidak melulu mencari keuntungan tetapi  juga sebagai Agen Pembangunan, istilah kerennya sebagai Agent of development. Terus saya lanjutkan dengan berkata :”Tugas utama kita adalah ikut mendorong Swa Sembada Pangan”.  Artinya  mendorong produksi pertanian untuk mencukupi kebutuhan Dalam Negeri. Hingga pada suatu saat RI dinilai berhasil, Presdiden Soeharto berangkat ke kantor WHO di Roma untuk menerima penghargaan dari PBB

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan nasabah mikro, dengan program pertanian, peternakan dan perikanan, tidak kalah peranannya seperti  program Diakonia, yang saya pimpin selama 3 tahun sebagai Majelis Gereja di GKI Kwitang, Jakarta Pusat.

MASA PENGABDIAN DI ATAMBUA
Kehidupan turun temurun penduduk NTT  tidak bisa lepas dari memelihara ternak sapi dan menanam jagung sebagai makanan tambahan utama.
Oleh sebab itu untuk meningkatkan kesejahteraan petani, kami memberikan pinjaman untuk membeli anak sapi untuk dipelihara dan digemukkan untuk kemudian dijual jika sudah cukup usia, pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan daging di Pulau Jawa melalui pelabuhan Surabaya dan Jakarta.

Untuk keperluan tersebut, agar dapat melayani petani dan peternak dipedesaan, kami membuka Kantor Kantor BRI Unit di beberapa kota Kecamatan dan sekaligus memberikan lapangan pekerjaan bagi pemuda di daerah Kabupaten Belu. Termasuk disini, saya harus menghabiskan waktu yang tidak sedikit untuk turun ke lapangan melakukan pembinaan pegawai dan pengawasan ketat, sebagaimana layaknya sebuah Bank yang dapat dipercaya masyarakat.
Tidak jarang, hukuman berat hingga pemberhentian terpaksa dilakukan apabila terjadi penyalah gunaan keuangan di Kantor  yang jauh di kota Kecamatan.

Kondisi tanah daerah kabupaten Belu memang sesuai untuk menanam Bibit unggul Jagung. Hingga pada musim tanam thn 1982/1983 kami dapat tugas mulia dari Gubernur KDH, Dr.Ben Mboi untuk membiayai penanaman Bibit jagung, yang akan dipergunakan sebagai Bibit di seluruh Kabupaten di NTT. Pada saat panen, Menteri Solichin GP, Direktur BRI dan Gubernur KDH NTT sengaja datang dengan pesawat ke Atambua dan melakukan panen raya di Kecamatan Betun.

MALIANA, TIMOR TIMUR
Tugas pengabdian kepada bangsa dan Negara dengan penuh risiko pernah saya alami  ketika saya membuka Kantor Bank  BRI  pertama di daerah kabupaten baru, yaitu di kota Maliana,  Ibukota Kab. Bobonaro dan juga pembukaan Cabang baru di Dilli, ibukota Timor Timur. Thn 1982 keamanan memang  sudah relative kondusif, tetapi sisa sisa pemberontak Frentilin masih suka keluar-masuk kampung. Puji Tuhan, dengan pertolonganNYA, dengan doa, uang kas yg kami bawa dari Atambua ke Maliana tidak pernah diganggu .

Seibenarnya secara administratif  dan secara legal, petani dan pengusaha di Kabupaten Maliana belum memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman dari Bank. Tetapi Pemerintah R.I termasuk kantor Pusat Bank BRI bertekad memberikan keistimewaan khusus, dengan pertimbangan jika kelak kreditnya menunggak atau tidak dibayar, maka Bank BRI akan dapat ganti rugi dari  Kementerian Keuagan, Bank Indonesia dan Asuransi milik Pemerintah, PT.ASKRINDO. Satu dan lain hal itu menjadi bagian dari pengabdian kepada rakyat yang telah rela bergabung dengan pemerintah R.I

Untuk tugas tersebut setiap dua minggu saya pergi ke kantor BRI di kota Maliana melalui jalan berdebu dan berbatu batu, menyeberangi sungai tanpa jembatan dan juga turut serta terlibat di lapangan dalam pemberian kredit pertanian massal, yang dikenal dengan istilah “Kredit BIMAS” (Bimbinga Massal) sebuah paket kredit terdiri dari Pupuk, Obat Obatan dan uang tunai untuk Biaya hidup petani..

KUDUS, JAWA TENGAH
Karena pengabdian saya kepada masyarakat kecil di Cabang kecil di Bank BRI Atambua dan di Timor Timur, Tuhan memberi kepercayaan lagi untuk memimpin Kantor yang lebih besar,  kami pindah ke kota industri rokok,  di Kudus, Jawa Tengah, berbatasan dengan kota Demak, 50 km sebelah Timur kota Semarang.

 ”Tuhan menjawab doa kami”, begitu kesaksian beberapa orang para pegawai Bank BRI Kudus dengan wajah sukacita, seraya menambahkan : ”Sudah lama kami berdoa agar Pimpinan Cabang disini adalah Anak Tuhan”, kata mereka serentak. Thn 1985 itulah sejarah pertama sekali Natal dirayakan di rumah dinas Kepala Bank BRI Kudus.

Tahun kedua di kota Kudus, disuatu hari minggu, setelah kebaktian usai,  Pendeta Gereja Muria, Kudus  berkata kepada saya : ”Apakah Bapak bersedia menjadi anggota Majelis ?”, katanya. Karena kesibukan, saya menjawab spontan :”Terima kasih Pak, mungkin pada kesempatan lain”, kata saya.

Walaupun saya bukan anggota Majelis Gereja Muria, selama 3 tahun lebih bertugas di Jawa Tengah, Jabatan dan fasilitas Bank, saya manfaatkan juga untuk  ikut membantu pelayanan Gereja  terutama pelayanan keluar kota, ke Juwana, Salatiga, Semarang bahkan sampai membangun kembali Gereja yang roboh karena angin puting beliung di Desa Sampit, Kabupaten Boyolali,  dikaki Gunung Merapi, termasuk  pengobatan dan pemutaran film dengan membawa serta rombongan beberapa tenaga medis,  para pengusaha, nasabah Bank BRI Kudus.

Disamping itu, rumah dinas disebelah Kantor itu, setiap hari  mulai jam 7 malam Satpam tidak lagi menerima tamu karena  kami setia menghadap Tuhan dalam mezbah malam. Dengan duduk  bersila melingkar dilantai ruang makan bersama ke 4 anak yang masih duduk di Sekolah Dasar dan kadang kala bersama keluarga yang datang berkunjung. Dengan Alkitab ditangan masing masing, kami berenam bergiliran baca satu satu ayat dan bergiliran pula memimpin doa, termasuk anak bungsu yang masih duduk di bangku kelas satu SD. Salah satu ayat kegemaran anak anak ialah :”Sesuai dengan perkataanmu engkau dibenarkan”, yang menjadi pegangan anak anak untuk tidak pernah berbohong.

Pernah suatu ketika melihat dan ikut dalam mezbah,  seorang  kakak dari Jakarta yang dapat giliran membaca ayat dan memimpin doa, menangis tersedu sedu dan berkata :”Alangkah damainya rumah ini”, katanya. Esok harinya seusai kebaktian, dalam perjalanan ke bandara Ahmad Yani Semarang  kakak saya berkata :”Khotbah Pendeta itu betul  betul untuk saya”, katanya sambil bercerita sendu bagaimana permasalahan hidup banyak warga Jakarta yang  jauh dari Tuhan,tidak ada damai dan sukacita.

LOS ANGELES, USA
Mezbah  doa dan Firman setiap malam itu tanpa disadari, akhirnya tumbuh menjadi  benteng kokoh yang tidak kelihatan, membentengi ke empat anak saya dari pengaruh pergaulan negatif dari sekitarnya, ketika mereka masih tinggal bersama kami orang tuanya di kota Metropolitan Jakarta. Bahkan Firman Tuhan itu sangat kokoh tidak bergeming,  ketika  tiga dari empat anak saya masuk High School dan mahasiswa  jauh di Negara Paman Sam, yang lingkungan pergaulannya jauh lebih bebas dari Jakarta.

Justru disana mereka menjadi aktivis Gereja Indonesia di sekitar kota Los Angeles,  California Selatan, hingga sepuluh tahun lebih. Dan  anak saya tinggal di rumah Pendeta untuk sementara,  Pendeta yang kami kenal  dulu semasa dinas di Kudus.

Secara berkala kami mengunjungi anak anak di Los Angeles dan pasti ikut  berbhakti di Gereja mereka. Kami juga terbeban, berjanji akan membantu pembelian tanah untuk Gereja disana. Janji itu tertunda karena krisis ekonomi thn 1998 dan usaha keluarga kamipun,  Rental Alat berat di Pelabuhan Tanjungpriok terpaksa tutup. Hingga suatu saat Tuhan memberi berkat dan janji itu baru dapat kami penuhi tahun 2.000.

Lama tidak ke Los Angeles lagi, suatu ketika Tuhan menggerakkan hati anak anak saya untuk membahagiakan orangtuanya, menghadiahi saya tiket ke Los Angeles, kunjungan ke 13 kalinya dan bersaksi dalam suatu kebaktian Minggu di Jemaat Kristen Indonesia di Orange city, bagaimana Tuhan memberkati keluarga kami, termasuk anak laki laki saya nomor dua, yang telah menjadi Warga Negara USA, staf di Bank disana, yang juga menjadi Song leader di Gereja itu.

Seusai kebaktian, sebelum pulang kerumah,  Pendeta JKI itu  memanggil saya dan tanpa seorangpun melihat, tangannya menyalami  saya beserta sebuah amplop tertutup warna putih dengan Logo Gereja JKI. Sampai dirumah saya membukanya dan terkejut, didalam amplop itu ada beberapa lembar kertas bergambar  President Lincoln, nilainya cukup untuk membeli  tiket  Jakarta – Los Angeles p.p
Puji Tuhan, apa yang kita tabur, itu pula yang kita tuai.
                                                  Indonesian Bankers in Manila


PELAYANAN SEBAGAI PENATUA
Seusai masa pengabdian kepada bangsa dan Negara melalui Bank milik Negara, pada masa purna bhakti, Tuhan memanggil saya  melayani diladangNya, menghabiskan 7 tahun dari usia saya sebagai Penatua. Tuhan memberikan saya berbagai talenta untuk dipergunakan dalam pelayanan. Menyadari  jangan seperti hamba yang bodoh itu, karena Dia akan mengambil talenta kita kembali apabila tidak kita gunakan dan akan diberikan kepada hamba yang memiliki banyak talenta.

BIDANG PERBENDAHARAAN
Saya memilih Bidang Perbendaharaan d/h Bidang Penatalayanan, karena talenta saya antara lain adalah  dibidang Akuntansi dan Keuangan, sebagai mantan Bankir. Sistem yang kami pakai di Bank, saya terapkan juga dalam pelayanan, termasuk mengganti system administrasi Keuangan yang masih manual,  menjadi system Komputerisasi. Dengan system ini, uang Tuhan yang telah didoakan dan diberkati dapat dikelola secara lebih transparan dan bertanggung jawab.

 
Disamping itu, agar Jemaat bisa mengikuti kebaktian dengan lebih khusuk, dan juga tidak beralih ke gereja lain, Gereja antik,dibawah lindungan Dinas Purbakala itu saya perjuangkan dengan tantangan yg tidak ringan untuk menggunakan alat  Pendingin Udara (AC) central sejak thn 2003 lalu, tanpa merusak sama sekali design apik arsitek Belanda itu.

BIDANG KESAKSIAN DAN PELAYANAN
Pada periode ke II Kemajelisan, 3 tahun berikutnya saya memilih Bidang KESPEL, karena saya sudah memahami Tri fungsi Gereja yaitu bersekutu, bersaksi dan melayani. Saya terbeban untuk ikut terjun dalam kegiatan Diakonia, Pelayanan Medis, Penginjilan ke Rumah Tahanan di Tangerang, berkordinasi dengan Yayasan Sosial milik Gereja yang mengurus Panti Asuhan, Panti Jompo dan  Anak Sekolah Luar Biasa.

Sementara memimpin Bidang KESPEL saya juga berhasil memperjuangkan status sebuah Pos Pekabaran Injil menjadi Pos Jemaat indepen dengan memulai regenerasi anggota Majelis Jemaat setempat  pada tahun 2009.
Bersamaan dengan itu, di Pos Jemaat yang lain, terobosan yang sama saya lakukan regenerasi anggota Majelis Jemaat, yang sekian lama  dikelola oleh seorang Majelis Senior yang dominan.
Salah satu kendala pelayanan di Gereja dan Pos Pos Jemaat  adalah status quo dimana Majelis senior  segan mengalihkan pelayanannya ke generasi penerus.

Dalam periode akhir pelayanan, saya menjadi panitia Paskah 2009 dan membuat Program Penghijauan bersama sama dengan Walikota Jakarta Pusat. Melalui program Gereja ini kami bersaksi bahwa Gereja juga wajib memelihara Bumi ciptaan Allah
Tidak diduga, thn 2009  kami mendapatkan Piagam penghargaan dari  Ibu Walikota karena sudah ikut berpartisipasi dalam Program kerja PEMDA dalam Penghijauan Jakarta.

Secara simbolis, Pdt Agus Moelyono menyerahkan ratusan Pohon MANGGAsetinggi 1 meter  kdp masyarakat Desa Cempaka Putih, Jakarta Pusat dan pembuatan ratusan lobang BIOPORI di seberang Mal Cempaka Mas. Kepala Desanya bertanya kepada saya :”Bagaimana bisa Gereja ikut memikirkan kegiatan seperti ini ?”, katanya takjub. . Demikian pula Wakil Walikota dalam Rapat besar di kantor Walikota berpesan :”Sampaikan terima kasih kepada teman teman Gereja”. Suatu  kesaksian dari Gereja kami..

Akibat terobosan terobosan  tersebut diatas, maka masa periode kemajelisan saya diperpanjang satu tahun lagi untuk melanjutkan pembenahan Pos Jemaat baru dan proses regenerasi anggota Majelis Jemaat. Dengan demikian total masa pelayanan saya menjadi 7 (tujuh) tahun, bukan 6 tahun.

                   San Fransisco

BADAN PENGAWAS KEUANGAN
Majelis Jemaat melihat terobosan yang saya lakukan dalam system administrasi keuangan dan Komputerisasi di GKI Kwitang, maka disuatu malam di bulan Juli thn 2006 hand phone saya berdering :”Apakah Pak Situmeang bersedia menjadi anggota BPK?”, suara yang tidak asing ditelinga saya, suara Pnt.Daniel. “Kami sedang sidang Klasis di Puncak”, katanya. Thn 2007 saya pun mulai aktif memeriksa Keuangan GKI Klasis Jakarta I yang beranggotakan 14 Jemaat/Gereja.

Tiga tahun pertama merupakan tahun yang berat, karena saya bekerja sendirian berhubung 2 orang Ketuanya berhalangan karena sesuatu hal. Mana lagi saya berpatner dengan dua orang Bendahara Klasis yang tidak dibekali ilmu akunting yang memadai, sehingga kami memakai bahasa yang berbeda.


Syukur hal itu tidak berlangsung lama, pada periode 3 tahun berikutnya, pemeriksaan berjalan lancar karena pergantian Bendahara dengan
 menggunakan bahasa dan system yang sama dalam pengelolaan keuangan  Bulan Juli 2012 Ketua BPK diserah terimakan kepada pengurus baru setelah 6 tahun.

PENUTUP

Mengabdi kepada bangsa dan Negara bisa kita lakukan dimanapun kita Tuhan tempatkan asal kita lakukan dengan penuh passion, cinta kepada profesi kita, karena pada hakekatnya dengan iman percaya kita melayani masyarakat untuk kemasyalahatan sesama, mencintai sesama.


 



Post a Comment