Saturday, September 5, 2009

MUDA TUKANG BECAK, TUA JADI KEPALA BANK


Bekerja sambil kuliah dia lakoni, alon alon asal kelakon ketika dia dipindahkan menjadi pegawai Staf di Kanwil BRI Semarang. Hari berganti hari, tahun pun bergulir terus, tanpa terasa sampai juga dalam acara pakai Toga menerima serifikat S1 di Semarang. Suatu modal untuk memenuhi salah satu syarat test mengikuti program calon staf pimpinan di Bank BRI.Ternyata dia tidak lolos test.

Selama bekerja di Semarang, dia bertemu dengan seorang gadis, Staf Bank BTN di kota yang sama yang kemudian jatuh hati dan menjadi isterinya. Memang jodoh itu ditangan Tuhan, sekarang mereka dianugerahi 2 anak, putra dan putri. Si suami, Herbin Pandiangan adalah anak paman saya. Sebaliknya, isterinya, marga Simanjuntk justru bintangnya bersinar terus dan dipercaya menduduki kursi Kepala Cabang Bank BTN di kota kota di Jawa Tengah.

Pada awalnya, kedatangannya ke Jawa Tengah tidak lain mencoba nasib yang lebih baik, tinggal bersama kami di Kebumen, karena saya menjabat Wakil Kepala Cabang BRI disana. Dia nekad datang ke Jawa karena di kampung kami di Sibolga lapangan kerja teramat sempit. Setamat dari SMA dia hanya bisa mengandalkan otot kakinya mengayuh beca. Sedangkan orang tuanya pensiunan pegawai di Kantor Residen Tapanuli waktu itu sudah cukup tua. Dia sebagai anak sulung merasa wajib membantu ekonomi keluarga. Diapun nekad mengadu nasib ke Jawa.


Kenekadannya itu tidak sia sia. Hanya dalam hitungan bulan, kebetulan BRI sedang melakukan rekrutmen pegawai untuk mengisi lowongan di BRI Unit Desa dalam jumlah yang tidak sedikit. Herbin lolos ujian masuk dan diangkat menjadi pegawai di Kebumen. Tidak lama sesudah itu, kami tinggalkan dia disana sendirian, karena kami dimutasikan ke BRI Cabang Kupang NTT. Selang beberapa tahun kemudian diapun ditarik ke Kanwil BRI Semarang di bagian proyek Komputerisasi BRI Unit Desa dan saya yang menjadi Pimpronya di Jakarta. Selanjutnya dia dipindahkan lagi menjadi Staf ke beberapa Cabang lain di Jawa Tengah.Dan terakhir menjadi Kepala Cabang pembantu di Kabupaten Garut, Jawa Barat dalam usia kepala lima. Itulah perjalanan karirnya berpuluh tahun. Dari tukang becak menjadi kepala cabang Pembantu membutuhkan perjuangan yant tiada henti dan kesabaran untuk bisa menggapainya.

Tiga tahun yang lalu, diawal bulan September 2006 saya mengikuti training Diakonia di Yogjakarta. Setelah mereka tahu, di hari Sabtu pagi Herbin menjemput iterinya ke Purwokerto, karena isterinya Kepala Cabang BTN disana. Mereka datang ke Yogjakarta dengan sedan baru, mobil dinas Kepala Cabang BTN. Saya sangat terharu melihat kebahagiaan mereka dan bisa mencapai posisi itu. Saya jadi teringat ketika saya menjabat sebagai Wakil Kepala Cabang BRI 2 kali dan Kepala Cabang tiga kali, bagaimana hidup berkecukupan dengan semua fasilitas yang disediakan oleh Dinas. Setelah makan siang, kami membeli oleh oleh untuk dibawa ke Jakarta. Sore iharinya saya minta diantar ke Stasiun KA Tugu, tetapi mereka memilih untuk membeli ticket pesawat.

Rasanya masih terbayang tahun 1956 atau 50 tahun silam, ayahnya Herbin, pamas saya, menjemput saya ke kampung Sitahuis, mengajak saya untuk melanjutkan sekolah di kelas dua SMEP Negeri Sibolga, yang terputus karena situasi rawan, karena sering terjadi baku tembak antara pemberontak PRRI di Gunung dan tentara pusat dikota Sibolga, yang diperkuat oleh Divisi Siliwangi. Paman inilah yang menjamin keamanan saya kepada kakaknya, Ibu saya, selama sekolah di Sibolga

Begitulah perputaran "Roda pedati", sebentar dibawah, kemudian naik keatas untuk kembali berputar kebawah lagi. Makanya jika masih dibawah, jangan putus asa berusaha terus mengikuti kemajuan zaman untuk bisa naik keatas. Setelah sampai diatas jangan lupa mempersiapkan diri jika nanti roda turun lagi kebawah. Dan adat kita di Indonesia, sesama saudara harus saling menolong.
Post a Comment