Tuesday, August 4, 2009

MEMULAI TEHNOLOGY INFORMASI DI BANK BRI UNIT DESA, AWAL THN 1990AN







Memimpin proyek Komputerisasi Bank BRI Unit dari NOL  di Wilayah remote, kota Kecamatan di ruangan tanpa AC dan berdebu serta listrik yang tidak stabil dan byar pet, tidaklah mudah. Harus dirancang Perangkat keras yang sesuai dan juga Program/Perangkat lunak yang user friendly, mudah dioperasikan karena jauh dari jangkauan. Hingga akhirnya saya mengkomputerkan 1.200 kantor

"Apa yang Sdr katakan kepada P.T.Humpus", tanya Bp.Winarto,, ketika saya dipanggil diruangannya di Kantor Pusat BRI Jakarta. Direktur BRI yang membidangi Tehnology Informasi tahun 1990a itu memanggil saya setelah menerima tamu dari P.T.Humpus, yang kalah tender Hardware Komputer. waktu itu.

Dengan agak terkejut melihat wajah yang kurang berkenan seperti itu, saya menjawab lugu apa adanya :"Pak Tender komputer International itu menggunakan dokumen tender yang disusun oleh Word Bank", kata saya sambil melihat wajahnya.Dalam dokumen tsb telah ditentukan spesifikasi teknis perangkat keras yang akan dilelang. PC, Printer dan UPS.

BRI di Pulau Rote, NTT

Pertanyaan berikutnya adalah :"Siapa saja pemenangnya", katanya karena mengetahui P.T.Humpus tidak memenangkan satu pun dari 3 Hardware yang ditenderkan . Sambil melihat wajahnya yang mulai cerah, saya jelaskan :"Pak pemenangnya ada tiga, satu perusahaan untuk P.C, satu Printer dan satu lagi pemasok UPS", kata saya. Memang tidak mungkin tender dimenangkan oleh satu vendor, karena tiap perusahaan punya specialisasi di hardware tertentu.

Dengan penjelasan saya Bp.Winarto memperoleh informasi lengkap atas apa yang sebenarnya dihadapi BRI. Saya mengetahui kemudian bahwa BRI membeli PC dari P.T.Humpus dengan menggunakan anggaran BRI, bukan Dana World Bank. Sebelum saya berdiri meninggalkan mejanya, beliau sempat berujar pelan:"Dikira saya enak duduk di kursi ini", katanya. Biasalah semakin tinggi pohon semakin kuat pula angin yang menggoyangnya.

Keluar dari ruang kerja Bp.Winarto menuju Lift,saya teringat upaya P.T.Humpus meloby saya mengajak makan siang sampai dua kali. Lobi dilakukan sebelum saya memimpin Rapat tender di Lantai 20 Gedung BRI I, didampingi Konsultan IT Word Bank, Mr.Warren Niles dan Direktur BRI Bidang Dana, Bp.Setiyoso, Dirut BCA sekarang.

Sambil duduk dilantai di restoran Jepang di bilangan Sudirman, orang HUMPUS bertanya: kepada saya :"Pak boleh kami tahu sedikit indikasi spec (spesifikasi teknis) yang ditenderkan", katanya. Hal ini sebenarnya adalah Rahasia dan tabu untuk dibicarakan. Dengan hati hati, saya menjelaskan:"Pak yang membuat spec adalah fihak World Bank" kata saya seraya melanjutkan :"Saya mewakili BRI sebagai user saja, tidak mengerti spec", kata saya.Karena tidak bisa mengorek rahasia, perusahaan group Cendana ini kemudian menemui Direktur BRI, Bp.Winarto.

Penambahan IT dengan Dana Bank Dunia ini adalah untuk mengimbangi pesatnya perkembangan bisnis BRI, khususnya di daerah rural, yaitu dalam rangka memperluas Komputerisasi BRI Unit, yang dimulai tahun 1988. Hingga tahun 1995 jumlah kantor BRI Unit sudah mencapai 1200 di seluruh Indonesia.Itulah target yang perlu menggunakan Komputer.

Jika merefleksi kembali sebelum era Komputerisasi di BRI Unit, bisa dibayangkan transaksi ditulis secara manual.Untuk pertama sekali ditetapkanlah kriteria, BRI Unit yang ramai dengan transaksi diatas 125 sehari, menjadi prioritas pertama. Makanya bukan hal yang aneh jika para pegawai sering lembur hinga malam, apalagi akhir bulan tutup buku. Menurut hemat saya, mereka dapat disejajarkan dengan para Guru, pahlawan tanpa tanda jasa.

Memperkenalkan Komputer masuk Desa, bukanlah hal yang mudah dan menghadapi tantangan yang tidak ringan.Coba dibayangkan kondisi berikut ini: Kantornya panas tanpa AC, berdebu dan listriknya byar pet sewaktu waktu. Untuk kondisi demikian diperlukan Hardware yang tahan banting, kwalitas prima, bukan yang abal abal.

Workshop Perangkat keras Komputer
Agar diperoleh Hardware bermutu, maka saya membuka "Workshop", bengkel khusus untuk testing berbagai merek PC, Printer dan UPS (Uninteruptible power supply). Bangunan worksop ini saya pinjam dari Kantor Cabang Cut Mutiah, Jakarta Pusat.Lokasinya disamping mesjid Cut Mutiah, dekat rel stasiun Kereta Gondangdia.

Testing tidak hanya dilakukan di Worksop, tetapi juga langsung di lapangan 3 di BRI Unit. Untuk sekali pengadaan, Hardware yang di testing minimum 3(tiga) merek, dengan spec yang berbeda beda. Setelah tiga bulan atau lebih, ditetapkanlah kwalitas yang terbaik. Kegiatan pengadaan dan distribusinya menjadi Divisi Logistik, bukan lagi ditangani Divisi BRI Unit.

Temuan hasil testing yang paling top waktu itu adalah UPS buatan Surabaya yang mampu mensupply listrik selama 6 jam, walau liatrik mati, seperti banyak terjadi di daerah. Dengan UPS ini, BRI Unit dapat tetap melayani nasabah dan untuk keperluan administrasi lainnya. Seperti diketahui, UPS yang banyak tersedia dipasaran hanya mampu back up time sekitar 30 menit, hanya untuk saving data yang sedang dikerjakan, supaya jangan sampai hilang.


Saya sangat beruntung, dengan memimpin proyek Komputerisasi selama 6 (enam) tahun di Kantor Pusat,maka terbukalah kesempatan mengadakan perjalanan dinas ke Manca Negara sambil berwisata dengan keluarga. Empat Negara saya kunjungi yang berkaitan dengan IT ini. Mengunjungi pameran di Hongkong dan Washington DC serta Study banding Komputerisasi di daerah rural ke Manila dan Bangkok. Pada kesempatan tsb tidak lupa saya membawa keluarga karena biaya lumpsum yang disediakan Dinas dalam jumlah relatif besar.

Pada awal proyek hingga hingga mencapai 25 kantor BRI Unit disekitar JABOTABEK,kami rekrut teknisi cukup 5 orang, dipimpin oleh Sdr.Moh.Saleh dan wakilnya Chandra. Tetapi setelah merambah ke beberapa Kanwil BRI, kami terpaksa merekrut teknisi baru dan sekaligus membentuk unit kerja Workshop khusus. Dengan Workshop baru ini, Hardware tidak perlu lagi dikirim ke Jakarta atau tekhnisi tidak perlu lagi wira wiri terbang ke daerah untuk memperbaiki.

Demikian juga dengan development Software yang dimulai dari scretch, kami terpaksa menarik dua pegawai BRI Unit ke Kantor Pusat yang kami sebut "implementor" untuk membantu dua programmer lokal dan satu programmer World Bank untuk memahami sistem dan prosedure transaksi manual lama. Pada awalnya kedua implementor ini turun langsung ke lapangan sebagai trouble shooter. Selanjutnya dengan semakin tersebarnya populasi proyek Komputerisasi, maka di Kanwil Kanwil direkrut pula implementor setempat.

Diluar BRI.
Pengalaman kerja dalam Komputerisasi di BRI saya bawa juga ke dalam kegiatan sosial ketika tahun 2003 saya bertugas sebagai Ketua Bidang Perbendaharaan di Gereja GKI Kwitang dan tahun 2006 sebagai Sekretaris Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) GKI Klasis Jakarta I (Jakarta-Bandung).
Ditempat ini saya berhadapan dengan pembukuan manual yang terlambat 6 bulan. Demikian juga dengan SOP yang belum memadai yang perlu disempurnakan. Untuk itu,kami mengundang Bp.Daniel, programmer Semarang untuk menginstal software yang telah mereka pakai di GKI Semarang dengan penyesuaian seperlunya.

 Gereja GKI Kwitang
Untuk mempersiapkannya, saya butuh waktu satu tahun untuk strukturisasi data setiap account. Setelah itu, programmer hanya di waktu weekend, Sabtu dan minggu melakukan instal program dan entry data. Penyelesaian Neraca dilakukan kemudian dari Semarang melalui modem.
Yang cukup mengejutkan adalah GKI Klasis Jakarta I hanya menggunakan Komputer akutansi satu tahun saja, kemudian kembali ke system manual. Alasannya sebenarnya karena para senior itu biasanya gatek, gagap tehnology.

Pemahaman IT merupakan modal membawa kita memasuki era globalisasi dan faktor kelebihan kita dibanding dengan rekan rekan senior lain baik untuk tetap mengasah. intelegensi maupun untuk kegiatan sosial. lainnya.
Post a Comment