Sunday, August 9, 2009

PERJALANAN.... KE PROMISE LAND., MENINGKATKAN IMAN



Di airport Amsterdam siang itu beberapa orang tentara dengan sikap siap tempur mengawal disekitar counter pintu boarding pesawat KLM yang akan terbang menuju Tel Aviv. Rasa tegang itu sudah dimulai sejak kami mengurus Visa di Kedubes Israel di Den Hagg. Dari belakang loket Staf Kedubes hanya mengajukan satu pertanyaan dengan berkata:"Apa tujuan Anda ke Israel?", katanya dengan kaku. Saya menjawab sesuai isi hati: "Mau membuktikan kebenaran Alkitab", kata saya spontan. Sambil menyodorkan passport dia menyatakan:"Tiga hari lagi kembali kesini", katanya, tanpa senyum.

Dengan alasan keamanan, keluar kantor Kedutaan harus menunggu lift dibukakan, sama juga waktu mau masuk, pintu harus dibukakan dari ruangan Kedutaan.
Sambil menunggu terbitnya Visa, kami mempunyai kesempatan terbang mengunjungi dua kota di Eropah yaitu Paris dan London.

Mungkin suasana tegang itu sebagai akibat perang yang baru saja usai tahun 1991 antara dua Negara pencinta perang, Israel dengan Irak dengan rocket rocket Scud yang masuk menghantam teritori Tel Aviv. Setahun kemudian tahun 1992, tanpa mengenal takut, kami pun datang, menghabiskan cuti tahunan, dua minggu di Amerika, Eropah dan Israel.



Rasa kuatir mulai timbul terasa ketika membeli ticket di Travel  agent Amsterdam untuk saya, isteri dan anak ketiga, Peggy. Kami diingatkan :"Di Airport nanti cari taksi resmi saja pak", katanya. Dalam hati, apa suasananya sama seperti bandara Jakarta yang banyak taksi gelap ?. Tiba dinihari di Bandara Ben Gurion -nama Pahlawan Israel-, visa dalam sepotong kertas kecil itupun diambil oleh petugas imigrasi tanpa bicara sepatah pun dan pasport dikembalikan tanpa cap apa apa. Tidak ada date of arrival, cap imigrasi.

Kami berjalan menenteng sebuah tas kecil -3 koper kami titip di Hotel Holiday Inn Amsterdam - menuju counter taksi resmi. Beberapa taksi gelap mencegat menawarkan jasa:" To Tel Aviv sir", kata mereka bergantian. "No thank you", saya balas dengan sopan dan terus mencari counter taksi resmi, karena masih tetap was was, dipagi buta di Negeri yang terasa sangat asing itu.

Begitu taksi meluncur, sopir berkata :"Don't worry, Israel is safe place", katanya dengan Inggris yang kaku, menentramkan hati. Saya pun bertanya apa arti logo yang ditempel di dashboard mobilnya. Dia berkata :"Ini adalah lambang Negara kami, lambang kemakmuran", katanya, seperti yang tertulis dalam Alkitab, Negeri yang penuh dengan susu dan air madu.

Memasuki Hotel yang telah kami booking dari Pan travel Jakarta, langsung check in. Petugas counter dengan sikap dingin berkata :"You come early, a day before booking time", katanya. Saya langsung protes dengan mengatakan :"Now is 1 am, April 8", kata saya bertahan. Tapi karena badan sudah capek dan saya membawa isteri dan anak gadis, malas berdebat, saya pun mengeluarkan redit card untuk membayar tambahan ongkos kamar satu malam, $ 125,-
Kami baru tahu kemudian bahwa lebih menyenangkan nginap di Hotel sekitar Danau Galilea atau di kota Yerusalem, Ibu kota Israel yang baru. Karena tempat bersejarah lebih dekat dibanding dengan tinggal jauh di Tel Aviv.

Sarapan pagi agak kesiangan di Restoran Hotel, mencoba makanan yang tersedia di meja buffet, nampaknya tidak ada yang menggoyang lidah mengundang selera. Karena merasa sayang sudah membayar, telah termasuk dalam charge kamar, saya berkata kepada isteri dan anak :"Kita minum kopi /teh dan telor rebus dulu", kata saya seraya melanjutkan :"Nanti kita cari makanan di luar ", karena minum kopi dan telor perut Melayu belum sarapan tanpa menyentuh nasi. Rotinya besar panjang dan keras. Dalam hati bertanya, inikah roti tak beragi, yang ditulis dalam Alkitab itu ?.

                                                                                       Tel Aviv


Berjalan sekitar 10 menit di down town, mata melirik kiri kanan, mencari restoran. Betul saja, diseberang jalan ada Restoran Vietnam. Tanpa berlama lama memilih menu langsung pesan nasi goreng, karena ada kesan nasi goreng Vietnam itu lezat, seperti di restoran Vietnam di Kelapa Gading, Jakarta. Baru seminggu saja meninggalkan Tanah Air, rasanya sudah rindu menu Oriental food atau Chinese food yang menjadi menu favorit yang di cari cari.

Suasana pertokoan di sekitar restoran itu,seperti suasana di Pasarbaru, Jakarta dengan trotoar yang cukup lebar, menyenangkan bagi pejalan kaki walau berpapasan dengan tentara menyandang bedil bukan merupakan pemandangan aneh di dalam kota.

Karena bangun kesiangan sehingga, bus tour pagi hari pertama sudah terlanjur berangkat.Akhirnya, saya menelpon taxi charteran. Kami dibawa keliling kota termasuk ke pasar tradisional melalui jalan sempit, lalu keatas bukit yang dapat memandang bangunan pencakar langit sepanjang pantai kota Tel Aviv, di kawasan laut Meditterian.
Ketika melangkah turun dari wisata setengah hari itu, sopir taksi berkata :"Thank you, I learn english today",katanya dengan tata bahasa yang kaku seadanya.

Ditahun 1990an, warga biasa yang fasih bahasa Inggris relatif masih sedikit. Ketika ingin beli pakean dalam saya pakai bahasa isyarat, tapi tidak dapat dimengerti, terpaksa menunggu pegawai yang mengerti bahasa Inggris . Masuk toko kecil kita tidak disapa good morning atau good afternoon, tapi dengan "Syalom" yang artinya mirip Wassalamualaikum. Tapi sekarang di mana mana bahasa Inggris sudah diajarkan sejak masih Taman Kanak Kanak.



Esok paginya jam 6 kami sudah didalam Bus wisata penuh turis asing dan hanya kami bertiga yang berasal dari Asia. Makanya pemandu wanita bertanya :"What is your nationality?", katanya. Saya menjawab:"Indonesian". Dia lalu berkomentar :"This is the first time I meet Indonesian", katanya dengan senyum. Pemandu lulusan pariwisata ini hafal betul tempat tempat bersejarah warga Kristen, walau dia beragama Yahudi, yang tidak mengakui Yesus sebagai Mesias, Juru Selamat. Mereka masih menantikan seorang Mesias.
Kamar Maria

Tempat bersejarah seperti tertulis dalam Alkitab, kami saksikan dengan mata kepala sendiri kesahihannya. Kesaksian pertama adalah kamar Bunda Maria dengan jendelanya, ketika malaikat Jibril datang dan berkata:"Kau akan mengandung", walaupun dia belum menikah. Kami duduk dikamar itu beberapa lama, di kota kecil Nazareth, disana juga berdiri rumah Yoseph dan Maria. Kota ini merupakan wilayah berpenduduk muslim terbesar di Israel. Makanya tidak heran, toko toko souvenir disitu menjual aksessori, souvenir yang terkait dengan Kristen seperti salib, patung Yesus dan masih banyak lagi.
                                                                                                         Peggy di Kapernaum


Tiba jam makan siang di tepi Danau Galilea atau Danau Tiberias -nama penguasa Romawi- ,rombongan digiring ke restoran dengan menu mirip dengan makanan di Hotel Tel Aviv. Karena tidak ada yang menggiurkan selera, kami ngacir keluar. Ternyata di tepi danau itu ada restoran Chinese food dengan menu istiwewa, menu wajib :"Ikan petrus", nama salah satu dari 12 murid Yesus. Setelah disantap, ikan itu memang maknyess, karena....dimasak dengan resep Chinese. Chinese di seluruh pelosok dunia tersebar. Tinggal buka di bulan.
                                                                                     Peggy dan Isteri, Galilea

Rombongan berangkat lagi menuju tiga tempat yang selalu diceritakan dalam khotbah khotbah yaitu kota Kapernaum, Sungai Yordan dan bukit Golgota.
Di pintu gerbang kota Kapernaum tertulis papan City of Yesus karena di sana terdapat sebuah reruntuhan bangunan Sinagoge, tempat Yesus mengajar. Sebagian bangunan masih utuh termasuk tiang bulat model Romawi, nampaknya seperti dilestarikan oleh Pemerintah. Tetapi sebagian besar sudah hancur dimakan masa.

Yang dicatat dalam Alkitab adalah kota ini dikutuk, karena tidak percaya ajaran Yesus, walau sering mendengar khotbahnya. Buktinya, tempat ini tandus tak dihuni orang, layaknya disebut kampung, bukan kota, karena tidak ada perumahan disekitarnya dan tidak ada tumbuh tumbuhanan yang menghasilkan disana.
Disebelah Sinagoge itu berdiri sebuah Gereja, jelas kelihatan struktur lantai dasar masih tetap dipelihara seperti aslinya. Tempat itu dulunya adalah rumah Simon Petrus,murid Yesus, mantan nelayan. Lokasi rumah dan Sinagoge itu sendiri dekat dengan bibir Danau, hanya selemparan batu jauhnya.

Tidak berapa lama, Bus tiba di tepi sungai Yordan, lokasi Yesus dibaptis oleh Yohannes pembaptis.
Banyak wisatawan yang datang dengan pakaian putih putih untuk dibaptis atau dibaptis ulang, sesuai keyakinan masing masing. Keyakinan kami sendiri, cukuplah dibaptis sekali sumur hidup.

Tanpa mengetahui higienis atau tidak sungai itu, hati saya langsung merindukan meminum air itu mentah mentah dengan menggunakan kedua belah tangan. Sedang isteri dan Pegy hanya cuci muka. Sebelum naik Bus, kami tergoda juga membeli 2 botol Air mineral dan mengisinya dengan air Sungai Yordan, seperti layaknya air zam zam dan dibawa pulang ke Tanah Air. Air itu kami nilai hanya air biasa, tidak punya nilai religius sama sekali.

Lokasi terakhir yang dikunjungi hari pertama, sebelum menjelang sore adalah napak tilas menapaki jalan terjal Via Dolorosa yang dilalui Yesus sambil mengusung dan menyeret kayu salib yang berat itu, sambil dicambuk perih hingga mencapai bukit Golgota, tempat penyaliban hingga ajal menjelang. Kami tanpa beban apa pun terasa berat juga menapaki tangga mendaki ke Bukit Tengkorak itu, sambil membayangkan penderitaanNya.Pengunjung penuh sesak ingin meyaksikan dengan mata kepala sendiri Bukit penyaliban Yesus.

Bukit Golgota


Turun dari bukit, langsung ikut antri dengan tertib dan sabar untuk memasuki kuburan milik Yusuf Arimatea, hanya beberapa puluh meter jaraknya. Masuk 2 - 3 orang, kepala harus tunduk karena pintunya rendah. Disanalah Yesus dibaringkan, sebelum dia bangkit pada hari yang ketiga. Sayang hari itu bukan Jumat, waktu rutin prosesi jalan salib melalui jalan mendaki Via Dolorosa. Dipraktekkean memanggul salib naik tangga semen, diikuti wisatawan dari seluruh dunia.

Tidak puas keliling sehari, hari keempat kami ikut Bus tur lagi untuk kedua kalinya, diantaranya ketemu lagi dengan seorang wisatawan Afrika dalam Bus wisata pertama. Beruntung kami punya banyak waktu, karena ijin tinggal minimum 5 hari, untuk mendapatkan visa ke Israel. Kami juga santai tidak harus bangun sepagi mungkin. Jika sehari sebelumnya sudah keliling, hari berikutnya kami gunakan wisata dalam kota saja. Jadi agak berbeda dengan packet tour dari Tanag Air, yang waktunya sudah dipadatkan sehingga semua harus on time bangun, sarapan dan ditentukan venue, spot yang akan dikunjungi.

Tiba hari terakhir akan meninggalkan Promise Land, dengan santai kami tiba di Bandara kurang dari 2 (dua) jam sebelum keberangkatan. Petugas counter KLM berkata:" You are late", katanya. Saya jawab :" We are come 2 hour prior to departure time", kata saya, sesuai dengan ketentuan penerbangan Internasional. Dari counter masih nampak melalui kaca transparan pesawat KLM yang akan kami naiki, masih parkir di landasan. Lalu saya minta :"Would you please transfer us to other plane", kata saya karena hari itu ticket KLM sudah conform berangkat dari Amsterdam - Jakarta.

Pesawat KLM


Di Negara yang doyan perang ini, rupanya tiba di Bandara minimum 3 jam sebelum boarding, untuk keperluan security. Baterey tustel, dompet, kantong dan kaos kaki sepatu juga tidak lolos dari pemeriksaan. Bahkan ketika duduk di ruang tunggu, saya diperingatkan oleh security :"Who's bag ", katanya menunjuk koper hitam yang baru kami beli di Tel Aviv. Saya bilang " It is mine". Dia langsung meminta : "Take it closer', katanya dengan serius. Selang beberapa menit security lain lewat lagi dan selalu memeriksa asbak asbak besar yang ada di ruang tunggu, siapa tahu ada Bom, karena Bandara itu pernah di bom oleh teroris. Habis diperiksa, seorang security wanita mengawal kami naik ke lantai dua dengan berkata :"Sorry for the inconvenience", katanya sambil berlalu tanpa good bye, tanpa senyum sama sekali.

Karena ditinggal pesawat KLM, kami dialihkan ke pesawat El-Al yang merupakan national flag Negara Israel, seperti Garudanya Indonesia. Terbang dengan El-Al menuju Belgia, hati dag dig dug juga, karena mayoritas penumpang pasti warga Yahudi, yang menjadi sasaran teroris. Kami duduk di kursi nomor kecil agak didepan. Ketika makanan dibagi, stewardess melewati bangku kami dan terus ke belakang. Ternyata mereka memprioritaskan beberapa orang terhormat dengan topi bulat kecil dengan jenggot dipilin pilin. Mereka disebut Rabbi atau Guru orang Jahudi.

                                                                                     Pesawat El AL



Rasa tegangpun lenyap setelah mendarat di Bandara Belgia karena penerbangan El-Al tidak sampai Amsterdam. Kami dialihkan lagi dengan pesawat kecil berpenumpang 4 orang, plus pilot dan seorang pramugari. Pesawat ringan kecil itu melayang layang diterbangkan angin seperti layaknya layang layangan. Tidak sampai 30 menit, makanan/minuman belum sempat disentuh, ditarik lagi oleh stewardes. roda mencicit di Bandara Amsterdam dengan jantung berdegup pelan kembali setelah dipermainkan angin sepanjang penerbangan.

Ketegangan dan debaran jantung itu sudah dilewati,kami mencari bagasi. Tas hitam yang baru dibeli di Tel Aviv tidak ada di Airpot Amsterdam. Apakah dibawa KLM atau El-Al atau dimana, tidak jelas. Dengan sabar petugas baggage claim KLM menjelaskan dengan berkata : "We will locate your bag", katanya dengan tenang karena melihat raut muka saya agak masam, seraya melanjutkan :"We will send it to Jakarta asap", katanya dengan yakin percaya diri.

Kami terbang ke Tanah Air dengan KLM lagi tanpa 1 kopor yang belum tahu dimana. Satu hari setelah tiba di Jakarta, dari Cengkareng ada telpon berkata:"Pak tas Bapak baru tiba dari Amsterdam", katanya. Kami bergegas ke Bandara Soekarno Hatta.

Walau pelayanan sepanjang perjalanan 5 hari tsb kurang memuaskan bercampur rasa takut, saya dan anak saya Monang dan Peggy masih ingin kesana lagi, kalau bisa beserta seluruh keluarga besar. Amin.
Post a Comment