Thursday, July 30, 2009

JAGO @ KANDANG


Didepan Gedung PBB, New York

"Kalau kami tidak mampu mengirim biaya lagi, kau harus pulang", begitu kata Bapak ketika melepas kepergian saya merantau untuk kuliah di Jogjakarta di tahun 1960an. Bapak termasuk golongan orang tua yang "berani" ambil risiko melepas anak tunggal (laki) ke kota yang belum pernah dia kenal dan tidak ada kenalan yang akan ditemui di kota yang baru itu.

Disamping itu, penghasilan Bapak hanya sebagai pedagang pengumpul karet dari kampung kampung, dua hari dalam seminggu dan menjualnya ke kota Sibolga. Penghasilan yang tidak menentu, bisa untung, bisa rugi. Walau Ibu juga pedagang kain dan beras, tetap saja penghasilan tidak dapat menjamin kelangsungan kiriman biaya hidup saya selama 6 tahun di Yogjakarta.

Saya juga termasuk nekad memilih kuliah jauh jauh, pada hal di Medan ada Universitas Negeri terkenal yaitu Universitas Sumatera Utara atau USU.
Saya dan sohib kental Parlaungan Hasibuan, siswa SMEA Negeri Padangsidempuan punya obsessi kuliah ke Jawa, kalau bukan Universitas Indonesia, ya GAMA. Kebetulan nilai ijazah kami diatas 7 rata rata, syarat minimum untuk diterima mendaftar di Fakultas Ekonomi GAMA.

Gedung Univ. GAMA, Bulaksumur, Yogjakarta
Syukur, kami berdua sama sama anak toke getah, tidak dimanja, kuliah kami tidak sampai putus ditengah jalan. Dan kiriman wesel yang tidak seberapa itu pun tidak pernah berhenti.

Keberanian ini juga tertular kepada 3 anak saya, yang kuliah di California. Ketika wisata ke Amerika Serikat, diatas Kereta Api dari Washington DC - New York - Niagara, saya bertanya kepada anak saya nomor dua, Monang :"Apa mau sekolah disini?", kata saya. Tanpa diduga, anak pendiam ini menjawab :"Mau papi", jawabnya tegas. Setiba di tanah Air, kami langsung mendaftarkannya ke Lembaga kursus EF (English First) untuk kursus bahasa di Amerika sebelum masuk College. Keberanian menjadi nekad ketika dua anak menyusul abangnya. Ternyata indekos disana hanya $ 200/bulan atau setara dengan Rp. 400.000,-/orang. Tidak jauh berbeda dengan kos di kota besar di Indonesia.

Apa yang dipesankan kakeknya, saya copy dan sampaikan kepada anak anak :"Kalau papi, mami tidak sanggup membiayai, kamu harus pulang ke Indonesia", kata saya. Kami juga termasuk "sangat berani" menyekolahkan mereka ke Luar Negeri. Memang sejak kuliah di Amerika, saya sudah buka usaha sendiri dan pensiun dini dari BRI, sebelum krisis terjadi. Penghasilan dari rental alat berat, relatif besar, tetapi tidak dapat dijamin kelangsungannya. Dan benar, krisis ekonomi datang menerjang tidak bilang bilang. Akibatnya, kami tidak mampu lagi mengirim biaya mereka. Sebelum krisis, kami hanya mengirim sekitar Rp. 6.000.000,- per bulan ($3.000), sejak krisis membengkak menjadi Rp. 45.000.000,- per bulan. Siapa tahan.

                                          Rindu Sibolga

Di zaman doeloe, sebelum tahun 1980an, lapangan kerja di Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah relatif terbatas, sesuai dengan kapasitas sumber daya alamnya. Oleh sebab itu banyak warga yang meninggalkan kampung halaman mengadu nasib di luar Sibolga.
Oleh sebab itu, saya cukup terkejut dengan Statement Sibolga akan menjadi cyber city. Suatu tantangan besar untuk mewujudkannya. Jika benar terwujud akan besar sumbangsihnya membuka lapangan kerja baru, agar warga Sibolga tidak perlu merantau jauh jauh.

Awal tahun 2008 lalu ketika saya di California, saya mendengar ada rombongan tenaga kerja warga India yang dikontrak sementara oleh perusahaan IT di Los Angeles. Mereka tinggal di satu Hotel. Warga India memang dikenal piawai dalam programming dan memperoleh penghasilan yang berlipat lipat dibandingkan dengan upah di Negaranya. Saya jadi terpikir, kenapa kawula muda dari cyber city Sibolga tidak meniru ide Tenaga kerja warga India itu.Pemuda harus berani meninggalkan kampung halamannya dan mencoba ke luar karena kesempatan di Luar Negeri masih terbuka luas.

Meninggalkan keluarga dan Sibolga tidaklah semudah mengatakannya. Selama kuliah belum tentu bisa pulang setiap tahun atau setiap dua tahun, karena masalah biaya. Sekali bisa pulang, maka kerinduan pasti akan dilampiaskan. Pertama rasa rindu keluarga terobati sambil makan gule ikan aso aso, masakan Ibu. Sore hari tak akan melewatkan duduk dipinggir pelabuhan lama. Dulu saya membonceng sepeda adik bungsu dan ponakan paling sulung duduk memandang jingga senja sambil makan kacang goreang.

Acara lain, tak akan absen menikmati sate Padang di pusat kota, yang hingga saat ini tetap makanan favorit, bahkan anak anak saya jadi suka. Tentu tidak akan lupa ke pantai Pandan, daerah tujuan wisata indah saat dulu. Sedang acara keluarga pastilah napak tilas, menilik kampung kelahiran, Lapaan Lombu, Sitahuis, 23 km arah ke Medan. Disana akan menikmati Durian (Batak:Tarutung) dan duku. Kedua buah ini tidak perlu beli, karena memang hasil pohon sendiri.

Walaupun merantau begitu lamanya, tetapi memory atas kampung halaman dan Sibolga tidak akan pupus dimakan masa. Sampai saat ini rumah kami masih berdiri, masih tampak seperti aslinya di  Jalan yang sudah ganti nama tiga kali. Sekarang bernama Jalan M.Panggabean No.32, sebelumnya Jl.Dolok Martimbang No.20  dan awalnya bernama Jl.Singamangaraja, yang sebutannya dikenal Sekolah tukang atau Ambakschoel, karena tetangganya adalah STM Negeri Sibolga, seperti foto diatas.
Post a Comment