Monday, July 6, 2009

FIRST TIME MET MY WIFE WRITE IN A POEM

Kota Jambi dan Sungai Batanghari

Naik speed boat di sungai Batanghari, Jambi yang lebar, dalam dan deras cukup berbahaya apabila mesin tempelnya mati, apalagi sungainya meluap akibat hujan di hulu dan tak jarang menyeret batang batang kayu hanyut ke hilir. Speed boat ini, bukan seperti type yang biasa dipakai James Bond, dari fiber glass, tetapi body kayu, made in warga setempat, yang dipasangi mesin di buritan dengan kemampuan 20 PK atau lebih. Dikedua sisi kiri-kanan dapat menampung 15-16 orang

Pagi itu, kami berpegangan tangan menuruni tangga tangga curam permanen, persis didepan kediaman, rumah dinas Gubernur Jambi, hingga ke bibir sungai. Dengan stelan baju terusan, berwarna cerah -model kesayangannya- ,dia kupapah menaiki speed boat umum ke "seberang", lokasi fabrik Crumb rubber, dimana saya bekerja. Disana parkir speed boat milik perusahaan yang akan kami pakai.

Setelah motor dipasang, saya duduk paling ujung belakang, tangan kiri memegang gagang gas mesin tempel itu dan mengarahkan speed boat ke hulu, kearah kota. Kota Jambi jelas nampak disebelah kiri kami lewati menuju lebih kehulu lagi arah keluar kota.
Dia duduk disebelah kiri berhadapan dengan saya, yang baru dikenalnya di bulan yang sama, Desember 1969.
                                 Kota Jambi

Pacaran ditengah sungai yang lebar dan deras, sungguh exotic,romantis.....merupakan pacaran gaya khas dan tentu jarang dilakukan orang lain, karena yang memiliki perahu atau speed boat pribadi itu langka. Kalau harus menyewa terlalu mahal. Wisata berbahaya ini cukup ber risiko bila mesin mati sewaktu waktu atau boat yang menabrak batang kayu yang hanyut membentur perahu, terutama dimusim hujan. Bisa bisa hanyut kehilir dan bisa terbawa arus deras. Mana saya hanya bisa nyetir, tidak paham memperbaiki. Apalagi mencari kerusakan sambil terseret arus ke hilir. Huh, tidak terbayang.



Kami pesiar ke hulu ke rumah seorang Dokter kenalan kami, alumni kedokteran Universitas Gajahmada Yogjakarta. Rumah dinas Dokter ini dengan mudah dapat dicapai sampai di sekitar Tenau, Kantor Gubernur sekarang, karena air sungai kala itu meluap membentuk sebuah danau baru. Sayang tuan rumah tidak ada waktu itu.

Seminggu sebelumnya Ibunya, Ibu P.Simanjuntak berkata kepada saya : "Besok adik saya datang", katanya ketika saya memperbaiki Jeep Landrover ke Bengkel Trio, milik Pak Pangaribuan, suaminya. Adiknya tak lain adalah teman saya, Gibson Simanjuntak, teman satu rumah kos ketika kuliah di Universitas Gajah Mada di Yogjakarta, yang akan bertugas ke Jambi dari Jakarta.

                                  Type Landrover pendek
Ini adalah kesempatan langka bagi saya, bisa bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis modis, anak Bengkel Trio, yang sudah saya dengar selentingan, yang baru libur dari Medan. Kebetulan teman baik saya Sdr.Sinaga, polisi, berpacaran dengan ponakan pemilik Bengkel Trio ini. Dihari kedatangan teman lama di rumah kakaknya, saya pun datang bertamu. Tak berapa lama kemudian, ponakannya dipanggail keruang tamu dan diperkenalkan. Sambil bersalaman dia mengatakan :"Uli...", katanya pendek dengan senyumnya yang renyah. Uli, kependekan dari namanya Rauli Pasaribu.

Semula saya bingung sendiri, marga anaknya kok Pasaribu, sedang Ayahnya marga Pangaribuan. Ternyata ayah kandungnya sendiri marga Pasaribu, meninggal di zaman perang ketika dia masih dalam kandungan. Baru saya faham mengapa 6 orang adik adiknya putih kulitnya, berbeda dengan dia, kakaknya paling sulung, hitam manis. Rupanya ayah tirinya adalah warga keturunan yang diberi marga Pangaribuan secara adat. Makanya tak heran bahasa Bataknya lebih fasih dari saya karena mereka berasal dari Pematangsiantar, Sumatera Utara.
                                           Type boat milik perusahaan
Selama pamannya bertugas di Jambi, saya pun punya alasan kuat untuk datang setiap hari ke rumah dan ke bengkel dengan berbagai macam alasan yang dibuat buat. Ada yang pinjam piringan hitam lah, pada hal saya tidak punya alat untuk memutarnya. Kadang datang datang untuk periksa mesin dan oli mobil, walau sebenarnya tidak ada kerusakan. Alasan yang paling masuk akal adalah bertamu jika pamannya sedang berada dirumah.

Dengan kedatangan pamannya, maka kami berkesempatan pula untuk keluar bersama bertiga, makan, kerumah teman, atau family dalam rangka Natal. Memang dia pulang ke Jambi dalam rangka liburan Natal dari sekolahnya, Akademi Bank di Medan. Urung jadi pegawai Bank, tapi akhirnya nikah dengan Bankir. Bulan Desember 1969 itulah kali pertama kami bertemu. Setelah pamannya pulang ke Jakarta, kami pun tidak segan segan lagi minta izin untuk pergi berdua. Untuk mengenang pertemuan pertama itu, dibawah ini saya tulis sebuah puisi :

I MET YOU

If ever a day should go by
I don't say I love you
May never a moment go by
Without knowing that I do

It is not that I am
afraid to die
Who will love you
as I do

If I am out of time
And I could pick up one day
One moment and keep it knew
All of the day I have lived
I will pick up the day
I met you

Aksi gaya James Bond bukan hanya berani ngebut pakai speed boat di sungai deras, tetapi juga tak kalah gaya di jalan raya utama kota Jambi. Sebagaimana layaknya pemuda yang sedang PDKT, boleh dikata hampir setiap hari menjelang petang saya lewat didepan rumahnya dengan jeep Land rover hijau atau jeep terbuka milik seorang jaksa, jeep tentara tanpa pintu. Pokoknya macho banget. Syukur syukur dia ada di ruang tamu menghadap jalan raya dan melihat saya. Kalau tidak ada, lewat saja sudah senang.

Sebaliknya, dia juga suka lewat depan mess kami di daerah Thehok, jalan raya arah ke Bandara Sultan Taha dengan Land Rover panjangnya warna silver. Lucu juga, badannya yang mungil, sepertinya sosok kecil di dalam Jeep relative besar dan panjang. Tak lama kemudian saya menyusul dari belakang dengan Jeep Land Rover juga, sama sama ngebut, walau bukan trek trekan seperti sekarang. Saya baru sadar, pantasan keempat anak saya hobby mobil semua, rupanya memang warisan darah kedua Ortunya.


Flash back.
Sebenarnya 6 tahun sebelum perkenalan pertama itu, saya, paman dan teman teman, meghabiskan liburan ke Bandung dari Yogjakarta. Kami sempatkan pula mampir ke Asrama putri, disebelah sekolah SMA St.Angela, Bandung setelah pindah dari Yogjakarta. Tapi peraturan asrama Katolik itu sangat disiplin, pamannya sendiri tidak boleh sembarang ketemu jika tidak pada waktu yang ditentukan. Atau Suster takut disangka bukan paman benaran, seperti saya, yang awalnya dipanggal "Tulang"(paman) seperti panggilan untuk teman saya itu, pamannya kandung. Dan panggilan inipun masih dia pakai sampai kami kawin, selama beberapa lama, baru berganti panggilan "papi". Kalau diingat ingat lucu juga, dipanggil Tulang, ha ha ha.

Sebelum pindah ke Bandung, dia adalah siswa di SMP Stella Duce, Yogjakarta dan tinggal di asrama yang menghadap ke Utara, Bulaksumur, kampus Fakultas Ekonomi yang megah itu, dimana saya kuliah. Setiap kuliah saya naik sepeda atau becak di depan asramanya pulang-pergi. Waktu itu sih tidak tahu. Lucunya, pamannya sendiri tidak pernah cerita kalau ponakannya saat itu sekolah di Yogjakarta. Setelah pindah ke Bandung baru saya tahu.

Memang begitulah perjalanan hidup, kapan pertemuan dengan calon isteri memang ditangan Tuhan. Saya justru ketemu dan berkenalan dengan pamannya dan Ibunya, calon mertua lebih dahulu, baru kenal anaknya kemudian. Tinggal disatu kota, di Yogjakarta, berusaha untuk ketemu di Bandung. Tetapi Tuhan baru mengijinkan pertemuan 8 tahun kemudian.

Ada dua benang merah yang kait mengkait dengan perjumpaan kami. Pertama adalah kota Yogjakarta dan yang kedua "karet".
Alkisah,hari pertama menginjakkan kaki di kota gudeg setelah turun dari Kereta Api, saya dan Parlaungan Hasibuan, rekan siswa SMEA P.Sidempuan, menginap disebuah Losmen sederhana di Jalan Sosrowijayan. Hanya puluhan meter sebelah barat Jalan Malioboro. Losmen itu persis berhadapan dengan rumah kos Gibson dkk. Perkenalan tsb. kemudian berlanjut setelah Sdr.Gibson bergabung dengan kami di rumah kos baru, sedikit kearah Barat, Jl.Pringgokusuman no.8.

Apa pula kaitannya dengan karet. Kebetulan Job pertama saya sebelum di Bank BRI, adalah di P.T.Panatraco, Jakarta, yang segera akan membangun dua fabrik karet, Crumb-rubber factory di Jambi dan Rantau Prapat, SUMUT. Setelah mengetahui latar belakang saya dari sejak kecil di bidang karet, karena Ayah adalah toke karet, maka saya diterima bekerja dan dikirim untuk membangun fabrik karet di Jambi, sehingga terbukalah kesempatan berkenalan dengan calon mertua saya, yang memiliki bengkel mobil, langganan perusahaan kami di Jambi.

Demikanlah, latar belakang pertemuan saya dan isteri penuh dengan rahasia dan rencana Allah. Tentu setiap orang mempunyai cerita khas sendiri sendiri, bagaimana bisa sampai ketemu, pacaran hingga menjadi suami/isteri. Rasanya cerita pertemuan penuh memori ini sayang akan hilang ditelan masa, kalau tidak diabadikan dalam tulisan.

I love you mum...



Post a Comment