Thursday, July 16, 2009

DASAR PERUT MELAYU


Ibu kandung dan isteri saya termasuk jago masak menu Sumatera, dekat dekat Salero Bagindo Padang, kira kira begitulah. Dari sononya memang lidah ini tak terlalu tergoda dengan menu Barat, walau nama nama masakannya exotic sekalipun, tetap saja lidah dan perut tidak mudah terpedaya. Jika bepergian keluar Negeri, prioritas pertama pasti Chineses food, Oriental food, baru McDonald.

Kali pertama menginjakkan kaki ke Negara Paman Sam, ditengah malam anak anak mengajak :"Papi kita cari makan ke luar Hotel yok", kata mereka. Maklum menu di frequent flier United Airlines pasti menu Barat. Makan di Hotel dipastikan tidak bakalan cocok. Kami menyeberang jalan dengan hati hati lihat ke kanan dan ke kiri, takut ke tabrak mobil kayak di Jakarta. Ehh...mobil mobil pada berhenti memberi kami jalan menyeberang. Walau baru sehari meninggakan sayur asem di Jakarta, mencium aroma masakan Korean food, rasanya langsung maknyess. Disantap panas panas, memang sedap dan pasti kenyang, karena cocok dengan perut Melayu.

Seusai makan, seperti biasa bayar bills dengan Credit card dan langsung beranjak pergi. Baki tempat bills dan Credit card tergelatek saja di meja, kosong. Tiba di pintu keluar seorang pelayan berlari dan bertanya :"Do you forget something?" katanya, sambil menggosokkan jempol dan telunjuk, kode untuk minta tips.
Rupanya memberi tips di dunia Barat merupakan kebiasaan. Dasar orang kampung, makan di Washington DC kayak makan di warung Padang saja. Dengan tersipu kami memberikan sekedarnya, saya lupa berapa, tapi pasti tidak sampai 10%, seperti kebiasaan di Amrik. Seorang teman saya Konsultan Amerika, ketika makan di Jakarta dia tidak memberi tips. Saya bertanya :"Mengapa tidak diberi tips?". Jawabnya memberi ilmu baru :"Kalau servicenya bagus, baru diberi" katanya.

California Selatan



Kami melanjutkan wisata ke Orlando dan Kennedy Space center di Florida. Didalam area wisata itu tidak ada Oriental restaurant. Prioritas kedua kami pilih Burger, seperti di Jakarta. Waduh, burgernya besar panjang dan dingin. Setelah bergantian kami mencoba merasakan, tak seorangpun dari kami berempat yang doyan. Tidak dimakan sayang, tetapi kalau dimakan kok nyangkut dikerongkongan. Dengan berat hati terpaksa masuk keranjang sampah.Akhirnya kelaparan hingga menjelang petanh. Setelah keluar dari Space center, sebelum masuk Hotel, kami sibuk mencari nasi di Oriental restaurant.

Pengalaman lain dialami anak kedua kami Monang, yang belajar bahasa di Olympia,
Washington, WA sebelum masuk College. Pada awalnya perutnya belum bisa diajak kompromi dengan menu Barat, bahkan sering menceret, katanya. Terpaksalah dia harus naik Bus jauh ke pusat kota, hanya untuk mencari nasi goreng kesukaannya di Restorant Vietnam dan China dikota kecil Olympia di Negara bagian di Utara. Ya sudah, sebagian Tabungannya dipakai untuk membayar makanan, sedang Biaya Kursus sudah termasuk Biaya makan di Asrama.

Lokasi Restoran yang jauh pun bukan menjadi penghalang memenuhi selera makan. Ketiga anak yang sedang study di California Selatan, sudah punya Restoran langganan,sama seperti anak anak Indonesia lainnya. Sampai sampai pelayannya bisa sedikit sedikit bicara bahasa Indonesia. Bukan hanya disaat weekend saja mereka kesana. Kalau kami baru turun di Airport LAX, Los Angeles, kami mampir dulu ke Restoran Thailand ini, baru kemudian menuju ke Apartment mereka. Masakan yang paling digemari di Restoran San Am Luang ini, apa lagi kalau bukan sop Tom Yam Kung, rasa asem asem pedas berisi udang.
Syukur, kalau sekarang kalau ingin mencicipi Tom Yam Kung tidak perlu lagi jauh jauh terbang ke Bangkok atau ke L.A. Di Kelapa Gading saja sudah ada dua.

                                                                 Java Kitchen, California


Peristiwa yang agak sedih pernah terjadi gara gara cinta masakan. Anak anak yang sedang kuliah minta dibawain rendang, menu favorit mereka. Waktu dulu belum ada warung Padang di L.A atau California Selatan, seperti sekarang. Waktu untuk masak rendang itu sehari semalam agar dagingnya sampai empuk dan besoknya terbang ke L.A dengan tentengan kaleng Khong Guan berisi rendang. Waktu melewati conveyor ban berjalan, nampaklah di monitor sesuatu yang mencurigakan. Petugas karantina bertanya dan dengan jujur kami mengaku itu adalah daging matang. Tanpa basa basi atau kata maaf, kaleng dan isinya dibuang ke tong sampah, karena daging dilarang masuk. Untuk itu kami harus bayar US$ 50. Sudah masak setengah mati dan anak anak sudah ngiler membayangkan daging empuk, eh malah dibuang. Coba saya makan didepan hidung imigrasi itu yah, kalau rendang itu tidak berbahaya.

 Cumi cumi Sibolga

Berbicara tentang rasa (taste), peristiwa geli terjadi juga dengan menu di Israel, khususnya roti. Saya,isteri dan anak ketiga, Peggy tidak berani sarapan di Hotel di Tel Aviv, karena rotinya panjang dan keras amat. Tidak tahu apa seperti "roti tak beragi" seperti dimakan pada saat perjamuan terakhir. Entahlah. Yang bisa disantap di Hotel hanya teh/kopi dan omelette. Kami akhirnya memilih jalan kaki 10 menit ke pusat kota. Suasana mirip Pasarbaru, Jakarta. Disana ada restoran Vietnam dengan nasi goreng yang nikmat, ditambah lagi seorang pelayan, pemuda Thailand yang tinggal di daerah perbatasan Malaysia di Utara, dapat berbahasa Melayu.

Waktu kami mengikuti satu Bus turis asing, disiang hari kami digiring ke satu restoran lokal Israel, langganan travel tsb. Kami bertiga ngacir mencari Chinese restaurant disekitar Danau Galilea (Danau Tiberias). Kami pesan "Ikan Petrus", menu wajib disemua restoran di tepi danau itu, sesuai dengan nama salah satu murid Yesus, mantan nelayan. Yang namanya ikan apa saja, jika dimasak sesuai selera pasti enak, ketimbang wajib makan roti keras.
Ternyata Chinese food ada dipelosok dunia, kecuali di bulan.

                                      Bersama Monang, Pahala, Peggy

Kami pun pulang ke Indonesia setelah 3 minggu wisata, tapi kangen masakan sendiri luar biasa nikmatnya. bahkan pernah anak pulang ke Jakarta, dari Cengkareng tidak langsung ke rumah, tapi makan dulu di Restoran Padang di Jl.Ir.Juanda, diseberang Istana Negara. Akhir akhir ini menu favorit adalah "Martabak" yang tidak pernah kosong setiap hri.

Rindu Tanah Air, kangen keluarga, rindum dendam sama rendang dan martabak.
Post a Comment