Monday, June 29, 2009

RASA KEHILANGAN

Kepergian seseorang, kepindahan ke kota lain, kehilangan sesuatu benda yang telah mengisi sejarah hidup kita sering meninggalkan guratan dihati, kerinduan untuk bertemu atau memiliki nya kembali.

Kehilangan Ayah
Ayah meninggal dunia pada saat saya baru saja menduduki jabatan paling top dalam karir, sebagai Kepala BRI Cabang Pahlawan (d/h Pasarturi) Surabaya. Terasa ada penyesalan yang sangat dalam dan rasa berdosa yang amat besar yang membayangi langkah langkah selama saya bernafas. Dalam posisi top sebagai Kepala Cabang besar, di Ibukota Propinsi dengan fasilitas dan berkat yang mengikutinya, saya sebenarnya mampu menyenangkan mereka, tapi tidak saya lakukan. Saya belum berbhakti sesuatu yang berarti kepada mereka.Bahkan ada perasaan sebagai anak durhaka.

Kadangkala, jika termenung, bayangan Ayah sering muncul dengan senyumnya yang khas, kesabaran, tidak pernah suaranya meninggi dan tidak punya musuh. Walaupun bukan masuk kategori menengah atas, tapi hidup keluarga kami berkecukupan. Dan yang penting lingkungan hidup keluarga kami tentram dan damai. Itulah rasa kehilangan Ayah.

Kehilangan teman

Hampir sama dengan itu, ada juga rasa kehilangan, kepergian seorang sohib akrab, Pak BF Gultom, pejabat tinggi, Kepala Biro Bangunan di Setjen DPR.RI, teman semasa kuliah, satu kamar indekos di Yogjakarta, sampai bersambung tetap bersahabat setelah menikah, membawa kenangan dan kehilangan tersendiri, apalagi kepergiannya ke alam baka baru saya ketahui kemudian. 

Jika melewati Gedung DPR di Senayan, pasti saya mengingat kebaikannya, yang suka menolong mencari pekerjaan untuk keluarga dari kampung dan teman temannya. Sebelum saya masuk BRI, dia pernah merekomendasikan saya jadi wartawan di Harian Suara Karya, Jakarta, untuk beberapa bulan, karena dia tahu dulu saya aktif di Mingguan Mahasiswa Inonesia edisi Yogjakarta.

Mantan atasan
Hampir sama juga dengan itu, kepergian rekan seprofesi, Pejabat tinggi di BRI, memberi kenangan tersendiri pula. Bapak Trisulo dan bapak Djumeri yang secara fisik kelihatan sehat, kuat dan gagah harus mengucapkan good bye. Terbayang wajah Bapak Trisulo yang ganteng, murah senyum. Beliau mantan atasan saya di Surabaya, Kepala Kanwil BRI Jawa Timur, yang pindah menjadi Kepala Divisi Bisnit Unit (Micro) di Kantor Pusat BRI dan saya jadi Wakilnya. 

Selalu teringat, selama menjadi wakilnya, Nota Nota Dinas kepada Direksi BRI yang saya buat, belum pernah ditolaknya. Dan bila Pak Trisulo, Kepala Divisi sudah tanda tangan, maka Direktur atau Dirut otomatis setuju. Suatu indikasi kepercayaan dan pengakuan atas pemikiraan saya.

Ada satu pernyataannya yang selalu terngiang dalam ingatan saya hingga saat ini :"Pak Situmeang jangan dendam ya", katanya. Tidak dijelaskan apa maksudnya. Tetapi patut diduga, ada semacam penyesalan dan kerisauan dalam hatinya, tidak mem back up saya sebelum dipindahkan dari Kepala Cabang BRI Pahlawan, Surabaya ke Kantor Pusat BRI Jakarta. Karena dia mengetahui dengan pasti, bahwa selama di Surabaya tidak ada penyimpangan yang saya lalukan.


Sedang Bapak Djumeri adalah mantan Direktur Bank Industri, yang pernah menggantikan posisi saya sebagai Kepala Cabang BRI Kudus. Cabang yang saya besarkan menjadi "the big tree" Cabang BRI se Jawa Tengah, menjadi salah satu faktor positif untuk mendongkrak promosinya ke jabatan lebih tinggi, disamping karena network dengan para pegolf Pejabat tinggi BRI. Diakhir hidupnya, kami sering olahraga bersama disekitar Cempaka Putih dan tiba tiba tanpa sepengetahuan saya, dia sudah pergi.

Kepulangan anak

Kepergian seseorang karena meninggal dunia dan kepergian karena tinggal di Luar Negeri agak berbeda. Anak saya, Monang, yang menghabiskan cuti 2 (dua) minggunya di Jakarta musim panas 2007. Saat akan kembali ke Amerika, dia berpamitan di Bandara, memeluk kami satu persatu, tersenyum, melangkah dengan sepatu kets dan celana pendeknya, gaya khasnya sejak lama, melambaikan tangan dan menghilang dibalik ruang kaca. 

Terasa ada sesuatu yang hilang dari hidup saya. Dia teman bermain dikala masih kecil hingga tammat SMA PSKD, hidup di Amerika setelah lulus SMA sampai kerja, nikah, sekarang pergi meninggalkan kami. Timbul perasaan aneh, apakah kami akan ketemu lagi ?.

Menjual mobil

Sedangkan kehilangan sesuatu, benda mati, memberi arti tersendiri berbeda dengan kehilangan seseorang. Menjual mobil untuk menutupi kebutuhan cash, terasa menyesakkan dada, menyisakan rasa kegagalan, walau di garasi masih bertengger 3 mobil. Masih teringat ketika tiga anak mau kembali ke Amerika setelah liburan kami menjual satu unit Honda Accord. Sebelum krisis tahun 2008 harga mobil di Indonesia memang cukup tinggi, bisa 3 kali harga mobil di Amerika. Menjaual 1 mobil di Jakarta bisa membeli 3 mobil baru di Amerika, cukup berarti untuk mendukung kuliah mereka bertiga disana.

Penarikan kembali oleh Leasing

Sama halnya dengan menjual mobil, maka ketika 2 unit alat berat Reach Stacker senilai US.$ 1 juta ditarik kembali oleh Leasing Company, sebagai akibat krisis ekonomi, ada kehilangan yang sangat mendalam, karena usaha yang kami geluti dan mengisi sejarah hidup selama 3 tahun, hilang sekejap, seperti petir disiang bolong. Rasanya ada yang mencuri sesuatu dari tengah tengah rumah tangga, walaupun itu barang mati dan itulah jalan terbaik waktu itu, negosiasi yang win win untuk kedua fihak.

Meninggalkan Cabang di daerah
Peristiwa meninggalkan suatu kota for good, untuk selamanya, karena dipindah oleh Dinas, juga membawa kenangan dan kehilangan sahabat dan pegawai BRI yang saya rekrut dan bina selama 3 tahun lebih. Ada 3 (tiga) peristiwa yang memberikan 2 (dua) kesan yang berbeda. Kesan pertama adalah "rasa sukses" mendapat promosi dari kota kecil diujung pulau Timor masuk ke kota Industri Kudus. Tentu Direksi BRI telah menganalisa kepemimpinan saya selama 3 tahun lebih di Atambua, NTT. Kejadian kedua terulang kembali ketika dipromosikan dari kota Kudus ke Cabang di Ibukota Propinsi Jawa Timur. Sedang kepindahan ke Kantor Pusat menyisakan sebuah kenangan dan kehilangan tersendiri.

Kesan dan rasa kehilangan yang sangat dalam adalah pada cinta pertama saya, yaitu mencintai kota Atambua, karena disanalah saya diangkat menjadi Kepala cabang BRI untuk pertama sekali. Membesarkan BRI, mendirikan rumah Dinas dan kantor baru dan mendidik pegawai untuk memberikan pelayanan terbaik, sangat membekas. Saya ada obsessi, kelak ingin napak tilas kesana lagi, sekedar melepas rindu dan nostalgia.

Inilah beberapa kesan dan menjadi kenangan yang kemudian menimbulkan rasa rindu dan kehilangan teman, anak, kota kenangan dan harta, yang bisa dipetik hikmahnya. Bahwa kebaikan seseorang tetap akan dikenang bahkan dapat diabadikan dalam tulisan. Promosi tidak hanya mengandalkan keahlian dan pengalaman, tetapi juga network, hubungan yang baik sesama lingkungan dimana kita bekerja. Sedang kehilangan harta, tidak perlu terlalu dirisaukan, karena dapat diganti dikemudian hari.
Post a Comment